JASMERAH, Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah.” – Bung Karno
Indonesia, negara archipelago
yang terletak di antara benua Asia dan Australia, serta Samudra Hindia
dan Pasifik ini, merupakan negara yang telah merdeka dan tepat di 2018
ini memasuki usia yang ke 73 tahun. Sejak masa kemerdekaan hingga awal
reformasi tahun 1998, Indonesia telah mengalami berbagai perubahan yang
tentunya menjadi sejarah lika-liku perkembangan tanah ibu pertiwi
tercinta. Inilah….. Perkembangan Politik, Ekonomi, Pendidikan, dan Budaya pada Awal Kemerdekaan.

A. Politik
Indonesia pernah menerapkan sistem demokrasi liberal, kemudian sistem
itu diubah menjadi demokrasi terimpin. Perubahan-perubahan tersebut
tentu membawa pengaruh terhadap perkembangan politik di Indonesia.
1. Perkembangan Politik pada Awal Kemerdekaan.
Pada awal kemerdekaan, situasi politik Indonesia masih mencari
bentuknya. Hal ini ditandai dengan berbagai perubahan yang terjadi.
Contohya :
a. Pembentukan struktur pemerintahan yang lengkap.
Saat proklamasi kemerdakaan tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia belum
memiliki struktur pemerintahan yang lengkap karena Indonesia belum
menentukan kepala pemerintahan dan belum menerapkan sistem administrasi
yang jelas. Oleh karena itu, setelah proklamasi kemerdekaan bangsa
Indonesia segera membentuk kelengkapan pemeritahaan, sebagai berikut :
1. Pengesahan UUD 1945
Uud 1945 ditetapkan dalam rapat PPKI yang diselenggarakan pada
tanggal 18 Agustus 1945. Dengan ditetapkannya UUD 1945, oada rapat
tersebut Indonesia memiliki landasan dalam melaksanakan kehidupan
bernegara
2. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
Pada rapat yang sama diakukan pemilihan presiden dan wakil presiden.
Dalam pemilihan tersebut Ir. Soekarno dan Drs. M. Hatta terpilih sebagai
presiden dan wakil presiden pertama di Indonesia
3. Pembagian wilayah Indonesia
Pada rapat PPKI yang diselenggarakan pada tanggal 19 Agustus 1945
diputuskan pembagian wilayah Indonesia dibagi menjadi 8 provinsi di
seluruh bekas penjajahan Hindia-Belanda. 8 provinsi tersebut adalah Jawa
Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Maluku, Borneo (Kalimantan), Sulawesi,
Sunda Kecil (Nusatenggara), Sumatra, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan
Surakarta
4. Pembentukan Kementerian
Setelah pembagian wilayah Indonesia, rapat panitia persiapan
kemerdekaan Indonesia (PPKI) dilanjutkan untuk membentuk kementerian.
Dalam rapat ini, diputuskan pembentukan kemetrian kementerian,
diantaranya adalah debagai berikut:
a. Departemen dalam negeri
b. Departemen Luar Negeri
c. Departemen Kehakiman
d. Departemen Keuangan
e. Departemen Kemakmuran
f. Departemen Kesehatan
g. Departemen Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan
h. Departemen Sosial
i. Departemen Pertahanan
j. Departemen Perhubungan
k. Departemen Pekerjaan Umum
5. Pembentukan Komite Nasional Indonesia
Pada tanggal 22 Agustus 1945, PPKI kembali menyelenggaraakan rapat
pembentukan KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). Tugas dan wewenang
KNIP adalah menjalankan fungsi pengawasan dan berhak ikut serta dalam
menetapkan Garis garis Besar Haluan Negara (GBHN).
6. Membentuk kekuatan pertahanan dan keamanan
Pada tanggal 23 Agustus, presiden Soekkarno mengesahkan Badan
Keamanan Rakyat (BKR) sebagai badan kepolisian yang bertugas menjaga
keamanan. Selanjutnya, pada tanggal 5 Oktober dibentuk tentara nasional
yag disebut dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat)
b. Perubahan Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS)
Sejak merdeka, pemerintah Indonesia berupaya menjalankan pemerintahan
sesuai dengan UUD 1945. Namun kenyataannya, hal-hal yang telah
ditetapkan dalam UUD 1945 tidak dapat sepenuhnya dilaksanakan
sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan oleh perubahan perubahan
situasi politik di Indonesia. Situasi politik tersebut diantaranya
adanya persetujuan Konferensi meja Bundar (KMB)
Pada 23 Agustus sampai 2 november 1949, Konferensi meja bundar (KMB)
diselenggarakan di Den Haag, Belanda . dalam konferensi ini, Belanda
mengakui RIS (Republik Indonesia Serikat) sebagai negara yang merdeka
dan berdaulat. Pengakuan Belanda terhadap RIS memberikan keuntungan bagi
Indonesia karena Belanda mengakui secara formal kedaulatan penuh negara
Indonesia di bekas wilayah Hindia-Belanda Meskipun membawa keuntungan,
pengakuan ini juga membawa dampak negatif republik Indonesia yang semula
berbentuk negara kesatuan berubah menjadi negara serikat. Akibatnya,
Republik Indonesia hanya menjadi salah satu negara bagian saja dari RIS.
Adapun wilayah RIS seperti berikut.
1). Negara Bagian Negara bagian meliputi Negara Indonesia Timur,
Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatra,
Negara Sumatra Timur, dan Republik Indonesia.
2). Satuan-Satuan Kenegaraan Satuan kenegaraan meliputi Kalimantan
Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tenggara, Banjar, Dayak Besar,
Bangka, Belitung, Riau, dan Jawa Tengah
3). Daerah Swapraja Daerah Swapraja meliputi Kota Waringin, Sabang,
dan Padang kesatuan menjadi negara serikat mengharuskan adanya
penggantian UUD Oleh karena itu, disusunlah naskah UUD Republik
Indonesia Serikat yang diberi nama Konstitusi RIS. Selama berlakunya
Konstitusi RIS 1949, UUD 1945 tetap berlaku, tetapi hanya untuk negara
bagian Republik Indonesia.
c. Indonesia Kembali Menjadi Negara Kesatuan Keadaan Republik Indonesia
Hanya merupakan salah satu negara bagian di dalam RIS secara tidak
langsung telah memperlemah posisi dan kedudukan Republik Indonesia. Hal
inilah yang diharapka oleh Belanda karena negara-negara bagian bentukan
Belanda tentu lebih memberikan dukungan kepada Belanda sebagai
pembentuknya daripada kepada Pemerintah Republik Indonesia. Dalam
perkembangannya, rencana Belanda untuk tetap menanamkan pengaruhnya di
Indonesia melalui pembentukan RIS justru mengalami kegagalan. Hal ini
justru disebabkan sejak proklamasi kemerdekaan sebenarnya rakyat
Indonesia menghendaki bentuk negara kesatuan.
Terbentuknya RIS benar-benar dianggap tidak sesuai dengan jiwa dan
semangat Proklamasi 17 Agustus 1945. Pemerintahan RIS dinilai sebagai
bentuk warisan penjajah yang dimaksudkan untuk dapat mempertahankan
kekuasaannya di Indonesia. Tidak sampai 1 tahun setelah pembentukan RIS,
muncul berbagai pergerakan di negara-negara bagian. Negara-negara ini
hendak bergabung dengan RI untuk mewujudkan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI).
Pada awal bulan Mei 1950, terjadi penggabungan negara-negara bagian
dalam negara RIS sehingga hanya tinggal tiga negara bagian, yaitu negara
Republik Ilmu Pengetahuan Sosial 95 Indonesia, Negara Indonesia Timur,
dan Negara Sumatra Timur. Perkembangan berikutnya adalah munculnya
kesepakatan antara RIS yang mewakili Negara Indonesia Timur dan Negara
Sumatra Timur dengan Republik Indonesia untuk kembali ke bentuk negara
kesatuan.
Kesepakatan tersebut kemudian dituangkan dalam Piagam Persetujuan
tanggal 19 Mei 1950. Untuk mengubah negara serikat menjadi negara
kesatuan, diperlukan suatu UUD Negara Kesatuan. Oleh karena itu,
dibentuklah UUDS 1950 (UndangUndang Dasar Sementara) sebagai pengganti
Konstitusi RIS. Pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS resmi dibubarkan dan
Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
E. Ekonomi
Pada awal Kemerdekaan, keadaan ekonomi bangsa Indonesia masih belum
stabil. Hal ini disebabkan oleh masalah – masalah ekonomi yang terjadi
saat itu. Misalnya : Inflasi yang terlalu tinggi (Hiperinflasi) dan
blokade laut yang dilakukan Belanda.
a. Permasalahan Inflasi
Beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan, bangsa Indonesia
mengalami inflasi yang terlalu tinggi (Hiperinflasi). Inflasi terjadi
karena uang Jepang beredar secara tak terkendali. Pada saat itu,
pemerintah tidak dapat menyatakan mata uang Jepang tidak berlaku karena
belum memiliki mata uang sendiri sebagai penggantinya. Kas Negara pun
kosong, pajak dan bea masuk sangat kecil. Untuk mengatasi masalah ini,
pemerintah mengambil kebijakan berlakunya mata uang De Javasche Bank,
mata uang pemerintah Hindia blanda dan mata uang pendudukan Jepang
b. Blokade Laut
Blokade laut yang dilakukan oleh Belanda dimulai pada bulan November
1945. Blokade ini menutup pintu keluar-masuk perdagangan Indonesia.
Akibatnya, barang-barang dagangan milik Indonesia tidak dapat diekspor,
dan Indonesia tidak dapat memperoleh barang-barang impor yang sangat
dibutuhkan. Tujuan Belanda melakukan blokade ini adalah untuk
meruntuhkan perekonomian Indonesia. Dalam rangka menghadapi blokade laut
ini, pemerintah melakukan berbagai upaya, di antaranya sebagai berikut.
1). Melaksanakan Program Pinjaman Nasional
Program pinjaman nasional dilaksanakan oleh Menteri Keuangan Ir.
Surachman dengan persetujuan dari Badan Pekerja Komite Nasional
Indonesia Pusat (BP-KNIP). Pinjaman yang direncanakan sebanyak 1 miliar
rupiah dan dibagi atas dua tahap. Pinjaman akan dibayar kembali
selambat-lambatnya dalam waktu 40 tahun. Pada bulan Juli 1946, seluruh
penduduk Jawa dan Madura diharuskan menyetorkan sejumlah uang kepada
Bank Tabungan Pos dan rumah-rumah pegadaian. Pelaksanaan pinjaman ini
dinilai sukses. Kesuksesan merupakan bukti dukungan rakyat terhadap
negara. Tanpa dukungan dan kesadaran rakyat yang tinggi, dapat
dipastikan negara akan mengalami kebangkrutan.
2). Melakukan Diplomasi ke India Pada tahun 1946.
Indonesia membantu pemerintah India yang tengah menghadapi bahaya
kelaparan dengan mengirimkan beras seberat 500.000 ton. Sebagai
imbalannya, pemerintah India menjanjikan akan mengirimkan bahan pakaian
yang sangat dibutuhkan rakyat Indonesia. Selain bersifat ekonomis,
pengiriman bantuan india juga bersifat politis karena India merupakan
negara asia yang paling aktif mendukung perjuanagn diplomatik dalam
rangka solidaritas negara-negara Asia.
3). Mengadakan Hubungan Dagang Langsung ke Luar Negeri.
Usaha mengadakan hubungan dagang ke luar negeri itu dirintis oleh
banking and Tranding Coperation (BTC) suatu badan perdagangan
semipemerintah. BTC berhasil mengadakan kontak dengan perusahaan swasta
Amerika Serikat. Dalam transaksi pertama, pihak Amerika Serikat bersedia
membeli barang-barang ekspor seperti gula, teh, dan karet. Usaha lain
untuk mengadakan hubungan dagang langsung ke luar negeri juga dilakukan
melalui Sumatra. Tujuan utamanya adalah Singapura dan Malaya. Usaha ini
dilakukan dengan perahu layar dan kapal motor cepat. Pelaksanaan
penembusan blokade dilakukan oleh angkatan laut Republik Indonesia
dengan bantuan dari pemerintah daerah penghasil barang-barang ekspor.
Melalui upaya ini, Indonesia berhasil menjual barang-barang ekspor dan
memperoleh barang-barang impor yang dibutuhkan.
F. Pendidikan
Pada zaman penjajahan kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi
anak anak Indonesia sangat terbatas. Dari sejumlah anak-anak usia
sekolah, hanya sebagian kecil saja yang sempat menikmati sekolah.
Akibatnya, sebagian besar penduduk Indonesia masi buta huruf. Oleh
karena itu segera setelah proklamasi kemerdekaan pemerintah mengangkat
Ki hajar dewantara sebagai mentri Pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan
(PpdanK) Ki hajar Dewantara menjabat jabatan ini hanya selama 3 bulan.
Kemudian, jabatan Menteri PP dan K dijabat oleh Mr. T.S.G. Mulia yang
hanya menjabat selama 5 bulan. Selanjutnya, jabatan Menteri PP dan K
dijabat oleh Mohammad Syafrei kemudian ia digantikan oleh Mr. Suwandi
Pada masa jabatan Mr. Suwandi, dibentuk Panitia Penyelidik Pengajaran
Republik Indonesia yang bertugas untuk meneliti dan merumuskan masalah
pengajaran setelah Kemerdekaan. Setelah menyelesaikan tugasnya, panitia
ini menyampaikan saran-saran kepada pemerintah. Kemudian, disusunlah
dasar struktur dan sistem pendidikan di Indonesia. Tujuan umum
pendidikan di Indonesia merdeka adalah mendidik anak-anak menjadi warga
negara yang berguna, yang diharapkan kelak dapat memberikan
pengetahuannya kepada negara. Dengan kata lain, tujuan pendidikan pada
masa itu lebih menekankan pada penanaman semangat patriotisme. Ilmu
Pengetahuan Sosial 119 Pendidikan pada awal Kemerdekaan terbagi atas 4
tingkatan, yaitu: pendidikan rendah, pendidikan menengah pertama,
pendidikan menengah atas, dan pendidikan tinggi. Pada akhir tahun 1949,
tercatat sejumlah 24.775 buah sekolah rendah di seluruh Indonesia. Untuk
pendidikan tinggi, sudah ada sekolah tinggi dan akademi di beberapa
kota seperti Jakarta, Klaten, Solo dan Yogyakarta. Selain itu, ada pula
universitas seperti Universitas Gajah Mada
G. Budaya
Perkembangan budaya sebenarnya sudah terjadi sejak Indonesia belum
merdeka. Banyak seniman yang melakukan perjuangan dengan menggunakan
karya seninya, seperti lukisan, puisi, prosa. Misalnya, Raden Saleh
melakukan kritik terhadap penjajah Belanda dengan menggunakan media seni
lukis. Lukisan yang dibuat oleh Raden Saleh menggambarkan suatu
penderitaan rakyat Indonesia dan juga kekejaman dari penjajah Belanda.